Kepulauan Anambas bisa dibilang salah satu wilayah terluar Indonesia, karena berada di Laut Cina Selatan di garis perbatasan dengan Malaysia dan Singapura. Ada sekitar 238 pulau yang tersebar di Kepulauan Anambas, namun hanya 26 pulau yang dihuni secara permanen. Kabupaten ini secara administratif masuk wilayah provisi Kepulauan Riau.

Apa yang menarik di Anambas? Utamanya adalah alamnya yang sangat indah. Tidak heran bila pada tahun 2012 CNNGo menobatkan Anambas sebagai pulau tropis terbaik di Asia. Pasir pantai yang putih, dipadu dengan gugusan batu-batu besar, laut yang jernih hingga bisa melihat kawanan ikan berenang di terumbu karang. Hal bodoh yang saya lakukan di sana adalah tengkurap di selasar rumah dan bahkan jongkok lama pelabuhan hanya untuk melihat ikan! Teman dari Jogja menyebut saya ”ndeso ra tau ndelok iwak” padahal dia yang ngajari saya melakukan itu.

Bila mencoba browsing, sudah banyak yang mengulas tentang Kepulauan Anambas. Di post ini saya hanya akan bercerita tentang pengalaman saya berkunjung di desa Belibak.

Pertama saya mendarat di bandara Matak, dilanjutkan menggunakan mobil menuju desa Tebang. Dari sini saya menyeberang menggunakan kapal pompong – kapal kayu bermotor – menuju desa Belibak di pulau Belibak (belakangan saya tahu bernama pulau Pangeran), satu pulau kecil di sebelah pulau Matak.

Di dermaga desa, saya dijemput sendiri oleh pak kades dan dibonceng menuju homestay yang baru saja dibangun. Homestay ini berupa rumah kayu yang berdiri di atas laut. FYI saja, masyarakat di sini mayoritas adalah nelayan yang memang tinggal di perkampungan di atas laut. Keren sekali saya bisa ngerasain tinggal di sini. Rumahnya berada di ujung sehingga saat membuka jendela, pemandangannya adalah laut luas. Selasar rumah terbuat dari kayu yang disusun renggang, seakan memfasilitasi saya untuk melihat ikan seperti yang saya bilang di atas.


Pulau Belibak sangat tepat untuk mereka yang ingin refreshing dan menjauh dari hiruk pikuk kota. Di desa ini tidak akan mendengar suara klakson mobil, teriakan kernet bus, sirine mobil polisi atau ambulan. Iya, karena di sini tidak ada mobil, hanya ada sepeda motor yang jumlahnya juga sedikit.

Bagi yang perlu ngecas batre laptop, kamera, powerbank dan segala hal yang membutuhkan listrik musti bersabar karena listrik hanya menyala dari jam 18.00 hingga 23.00. Listrik desa menggunakan genset yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Bagi netijen budiman yang hidupnya tidak bisa lepas dari sosmed silahkan berjalan kaki ke ujung dermaga berharap ada koretan sinyal internet 3G dari tower yang ada di pulau sebelah.


Tanpa “aktivitas rutin” di atas trus ngapain? Apakah tidak malah membosankan? Banyak hal yang bisa dilakukan di sana. Bersosialisasi dengan masyarakat setempat. Minum kopi sambil bercerita apa saja dengan penduduk lokal, sangatlah menyenangkan. Meski sering “roaming” dengan bahasa Melayu yang jarang didengar oleh kuping Jawa seperti saya.

Island hopping atau berkunjung ke pulau-pulau kecil di sekitar juga menyenangkan. Menurut saya menggunakan kapal pongpong lebih mengasyikan dibanding speedboat. Karena lambat, justru kita bisa menikmati perjalanan, bermain kecipak air atau sesekali melihat hamparan hutan terumbu karang saat melewati laut yang dangkal.
Pulau kosong di sana tidak benar-benar kosong. Pulau tersebut dihuni oleh gerombolan kera, burung laut dan kadang biawak. Saat perahu menepi terlihat puluhan kera liar berlompatan masuk ke dalam hutan. Bila beruntung kita akan menemui bekas jalur penyu dari laut ke daratan untuk bertelur. Atau bisa beruntung juga menemukan buah durian matang yang jatuh dari pohonnya. Di pulau tersebut kita bisa mandi dan snorkeling di laut yang airnya super jernih menikmati ikan berlarian di antara terumbu karang, atau sekedar duduk di pantai sambil menikmati kelapa muda dan bakar ikan. Bila bosan, pindah ke pulau lain mencari sensasi yang lain.


Duduk di depan rumah pada malam hari setelah “jam listrik” lewat memiliki nikmat tersendiri. Semuanya gelap. Cahaya yang ada hanya cahaya bintang-bintang dan semburat sinar lampu dari bagan-bagan pencari ikan di tengah laut.

Tapi pengalaman yang tak terlupa adalah belajar naik jongkong, yaitu perahu kecil seperti sampan berukuran kecil terbuat dari kayu utuh. Dibutuhkan keseimbangan yang mutlak untuk bisa mengendarai jongkong ini. Lumrahnya orang naik jongkong agar tidak basah, tapi saya harus basah kuyup dulu agar bisa naik. Berulang kali kejebur karena jongkong terbalik gara-gara saya tidak sukses mengatur keseimbangan. Tapi akhirnya berhasil juga dong… buktinya ini nih..


Saya tinggal di desa ini hanya beberapa malam. Berinteraksi singkat dengan masyarakat di sana sangat mengesankan. Hingga sekarang masih sering berkomunikasi, meski tentu saja harus bersabar bila pesan hari ini dijawab besok, menunggu mereka dapat sinyal dulu.

Sejujurnya baru kali ini perjalanan yang cukup bikin saya baper dan sangat pengen balik ke sana lagi.

 

Sumber: aanprihandaya.net

Categories: Blog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *